• Lorem ipsum
  • Dolor sit a met
  Masukkan nama lagu atau artis ke kotak pencarian untuk download musik yang Anda inginkan.

Reuni Guns N' Roses Yang Tak Terlupakan Di Jakarta

Di Posting di February 20, 2017 oleh Admin
96 dari 100 berdasarkan 543 peringkat pengguna

Jakarta:Tidak ada yang lebih menyenangkan bagi penggemar Guns N' Roses (GNR) menikmati bulan November dengan melihat secara langsung Axl bermain piano sambil bernyanyi November Rain. Beruntung, puluhan ribu penggemar GNR di Jakarta merasakan itu.

Sebagai band yang masuk dalam generasi emas musik rock, GNR punya segudang alasan untuk tetap berada di "atas" sana menikmati ego mereka masing-masing. Uang, popularitas dan tentu saja pujian tanpa henti. Tapi, apakah itu alasan awal mereka bergabung untuk bermusik? Menurut saya tidak. Pada akhirnya, drama perseteruan Axl dan Slash selama hampir seperempat abad harus diakhiri. Bukan untuk membuktikan siapa yang "menang" di antara keduanya, tapi untuk kembali pada tujuan awal mereka membentuk band berlogo pistol dan bunga mawar ini.

Berawal dari penampilan pertama reuni GNR di Coachella Festival pada April 2016, perjalanan grup asal California ini terus bergulir hingga detik ini. 

Siapapun tentu berpikir reuni GNR diikuti embel-embel keuntungan luar biasa di belakangnya. Axl dan Slash bisa menjamin kehidupan dua generasi  keturunannya - atau bahkan lebih - hanya dari keuntungan tur ini. Sebagai catatan, tur reuni GNR sejauh ini menghasilkan pendapatan kotor nyaris USD500 juta. Jika dikonversi ke Rupiah, tur reuni ini menghasilkan RP6,9 triliun! 

Penggemar GNR tentu tahu bagaimana kerasnya Axl Rose. Hal itu juga disadari para promotor kelas kakap di Amerika sana. Meluluhkan Axl tidak cukup dengan angka saja. Sebelum Axl benar-benar kembali di atas panggung bersama Slash, kabar reuni keduanya lebih terdengar seperti mitos. 

Reuni GNR tidak lepas dari lobi-lobi berbagai pihak. Termasuk promotor besar. Meski tidak mau disebut sebagai orang yang berjasa dalam reuni GNR, Paul Tollett, pimpinan Goldenvoice, promotor yang memulai Coachella pada 1999, punya andil dalam peristiwa bersejarah ini. 

Nama Tollett di industri musik dunia adalah sebuah jaminan. Dia malang melintang di industri hiburan Los Angeles sejak era 1980-an. Termasuk  pernah membuat konser GNR sebelum mereka terkenal.

Tollett turun tangan langsung untuk melobi Axl dan Slash agar kembali satu panggung. Lobi yang dilakukan tentu penuh perhitungan, mengingat yang dia hadapi dua tembok besar dan "kokoh."

"Ketika saya maju untuk (band) yang tidak sedang bersama-sama (mengalami perselisihan), saya tidak pernah memulainya dengan (tawaran) uang, karena itu menyinggung mereka."

"(Menawarkan uang) dapat membuat mereka ilfeel(hilang feeling) dan komunikasi jadi berhenti," kata Tollett, dilansir dari Los Angeles Times.

Dua tahun sebelum reuni terjadi, Tollett mengirimkan sebuah flyer konser GNR tahun 1986, dimana Tollet jadi promotornya. Cara ini dia lakukan untuk menghidupkan nostalgia di benak para personel GNR. Apa yang dilakukan Tollett rasanya tepat, flyer yang dia kirimkan adalah bukti otentik bahwa di samping sebagai promotor, Tollett adalah orang yang mampu melihat potensi GNR saat belum terkenal. Ini memberi kesan Tollett tidak semata sosok pebisnis musik yang berorientasi pada dolar. 

Lobi cair Tollett berbuah hasil, meski semua bukan pekerjaan satu malam. Gayung bersambut, Slash disebut-sebut punya kesan baik terhadap Coachella. Festival yang dibesut Tollett. Pada 2014, dua tahun sebelum reuni GNR, Slash bermain di Coachella sebagai tamu dalam panggung Motorhead. Slash sangat menikmati festival yang digelar di padang pasir Southern California ini.

Citra Coachella sebagai festival musik terbesar di Amerika juga cocok untuk jadi saksi dari kembalinya dua bintang besar yang terpisah cukup lama. Setelah melalui berbagai pertimbangan, reuni benar-benar terjadi. Not In This Lifetime dipilih sebagai tajuk reuni bersejarah ini.

Nama "Not in This Lifetime" diambil dari jawaban Axl pada 2012 saat ditanya kemungkinan dia reuni dengan Slash. 

Penggemar GNR di Indonesia seperti merasakan mimpi jadi nyata. Tur Not In This Lifetime  berjalan lebih lama dari yang dibayangkan dan menggelinding jauh ke sudut-sudut benua. Rasa harap-harap cemas penggemar GNR di Indonesia sudah mengalami pasang-surut. Pada 2017, GNR sempat tampil di Singapura. Sayang, mereka tidak hadir di Jakarta meski jarak penerbangan cuma kurang dari dua jam. 

Saat yang dinanti-nanti tiba, nama Jakarta masuk dalam jadwal konser GNR. Jakarta jadi kota di Asia pertama yang mereka singgahi pada putaran kali ini.

Kamis, 8 November 2018, adalah hari yang dinanti. Sejak siang hari, penonton sudah memadati area Gelora Bung Karno. Tanpa komando, mayoritas dari penonton mengenakan kaus hitam berlogo GNR. Menit demi menit berlalu, jumlah penonton yang hadir makin tak terkira.

Pada pukul 18:00, para penonton sudah tampak mengular di pintu masuk stadion. Menunggu venue dibuka. Sebagian menghabiskan waktu tunggu dengan membeli merchandise resmi. Tidak murah memang, kaus GNR dijual dengan harga Rp450 ribu. Tapi, bagi penggemar GNR harga itu tentu sebanding dengan momen sejarah yang akan mereka lalui malam itu.

Pukul 19:00, puluhan ribu penonton sudah mulai berada di area konser. Berada di tengah-tengah ribuan orang yang sedang antusias menanti idola mereka tampil adalah hal yang sangat menyenangkan. Ada energi dan suasana yang sulit dijelaskan lewat kata-kata.

Sekitar 30 menit sebelum pukul 20:00, jam dimana GNR dijadwalkan memulai konser, Kikan Namara, mantan vokalis Cokelat maju ke lidah panggung. Kikan memimpin puluhan ribu penonton bernyanyi Indonesia Raya. Seperti sebuah ritual wajib, semua konser internasional biasa didahului dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Selesai Indonesia Raya berkumandang, layar LED raksasa di hadapan penonton menampilkan animasi yang kian memompa adrenaline. Total 40 ton kargo yang terdiri dari sistem tata suara, lampu dan LED dirangkai jadi panggung super-megah. Videotron itu menampilkan tank yang melibas tengkorak berserakan dan sesekali mengeluarkan darah dari bagian bawah. Kemudian tampak manusia tengkorak memperlihatkan diri sedang berada di dalam tank dan mengibarkan bendera bergambar logo GNR. Terdengar lagu Sex Pistols, Anarchy in the UK sebagai musik latar. Tak lama lagi pesta "for destruction" akan dimulai. Sangat mendebarkan.

Setelah dibuat menunggu dengan perasaan tak tenang, yang dinanti pun tiba. Lampu mati dan tiba-tiba bassline familiar terdengar, disusul suara distorsi gitar. Itu pasti Duff dan Slash!

It's So Easy dipilih sebagai lagu pembuka. Lagu dari album Appetite for Destruction itu sangat bersejarah. Lagu itu awalnya ditulis oleh Duff dan West Arkeen sebagai lagu akustik dan kemudian diaransemen jadi rock oleh Slash. Makna lagu itu adalah sebuah perayaan ketika mereka masih jadi pemuda tanggung miskin yang gila musik dan selalu dikelilingi perempuan. Mereka seperti merayakan hal itu, hidup bebas, bersenang-senang meski tak punya uang. Sebuah pembukaan yang bermakna.

Malam itu, GNR tampil dengan formasi Axl Rose (vokal), Slash (gitar), Duff McKagan (bass), Dizzy Reed (piano/keys), Richard Fortus (gitar rhytm), Frank Ferrer (drum) dan Melissa Reese (synthesizer).

Tanpa banyak cakap, GNR menghajar Gelora Bung Karno dengan nomor-nomor lain. Berturut-turut mereka membawakan Mr. Brownstone dan Chinese Democracy. Slash sempat mengganti gitarnya dari Les Paul Gibson berwarna merah jadi BC Rich seri Bich warna hijau ketika membawakan Chinese Democracy. Satu hal yang membuat aksi panggung mereka tambah memikat untuk ditonton adalah animasi visual tematik yang menyesuaikan lagu. Saat Chinese Democracy, videotron di belakang memperlihatkan logo GNR bergaya sosialis lengkap dengan simbol padi di kanan - kiri berwarna merah plus tiga bintang di bagian atas. Kemudian terdapat animasi tangan berwarna merah yang dipenuhi siluet manusia-manusia yang mengerubungi tangan itu. Dalam dan penuh makna.

Penonton tak butuh waktu lama untuk mendengar lengkingan Axl pada nomor wahid Welcome to the Jungle. Lagu itu dibawakan pada urutan ke-lima.

"You're in the Jungle, Jakarta! You gonna die!" Pekik Axl Rose disambut gemuruh teriakan penonton dan sesaat kemudian intro gitar legendaris dari Slash terdengar. Suasana yang lagi-lagi tak dapat diungkapkan lewat kata-kata. 

Sorot kamera yang diproyeksikan di layar raksasa di kanan dan kiri panggung memperlihatkan detail para penggawa GNR. Axl mengenakan kaus bergambar perempuan seksi bertuliskan "The Hellcat." Slash dengan kaus bertuliskan "death metal" dengan paduan gambar dinosaurus bertanduk unicorn. Terlihat kontras, Slash yang garang mengenakan kaus dengan gambar imut. Sedangkan Duff McKagan mengenakan kaus grup punk veteran, Fear.

Layar raksasa juga sesekali memperlihatkan detail instrumen yang mereka gunakan. Duff misalnya, dia menempelkan stiker logo Prince pada bass Fender yang dimainkan.

Axl jadi personel paling sering berganti kaus. Setidaknya lima kali. Termasuk mengenakan baju bertuliskan "Some People Thought That He Was Too Intense."

Sedangkan Slash, dia cukup rajin berganti gitar. Mulai dari Les Paul warna merah, Les Paul warna sunburst, hingga Les Paul berwarna emas. Gitar elektrik lain yang dimainkan Slash malam itu adalah BC Rich seri Bich dan Mockingbird. Selain itu, dia juga memainkan dua gitar double-neck Gibson berbeda plus gitar string akustik string Gibson untuk lagu-lagu pelan macam Wichita Lineman.

Jelang pertengahan konser, GNR membawakan Rocket Queen, lagu lawas dari album Appetite for Destruction (1987). Disusul lagu cover Live and Let Die milik Wings.

Setelah itu, GNR membawakan Slither, sebuah lagu dari Velvet Revolver. Band yang dibentuk tiga personel GNR, yaitu Slash, Duff McKagan dan Matt Sorum. Rasanya, Axl dan Slash cukup adil melakukan "tukar guling." Slash memainkan lagu era Chinese Democracy(dimana Slash dan Duff tidak terlibat), tapi Axl menyanyikan lagu Velvet Revolver (dimana Axl tidak terlibat).

Waktu terus berlanjut, GNR tanpa basa-basi melanjutkan lagu demi lagu tanpa jeda. Setelah You Could Be Mine selesai dibawakan, terdengar intro You Can't Put Your Arms Around A Memory dari album The Spaghetti Incident?, yang dirilis pada 1993. Lagu itu di-medley dengan Attitude milik band Misfits.

Solo gitar Slash dalam konser GNR adalah sebuah kewajiban. Hal itu terjadi pada bagian tengah konser. Sebelum Slash memulai solo, Axl memperkenalkan satu per satu personel di atas panggung. Ketika tiba memperkenalkan Slash, Axl berulang-ulang menyebut, "And on the guitar..." 

Setelah lebih dari tiga kali menyebut "And on the guitar.." Axl meneruskan dengan kalimat "Quiet-shy-young-man named Slash!" 

Mendengar kata-kata itu, stadion kembali bergemuruh karena penonton bersorak.

Sejurus kemudian Slash melakukan aksi solo gitar disusul dengan membawakan melodi ikonik dari film The God Father, Speak Softly Love. Dramaturgi konser sudah disusun sedemikian rupa, solo gitar Slash berakhir pada sebuah intro yang paling dinanti-nanti, Sweet Child O'Mine!

Tak perlu ditanya lagi, seluruh penonton langsung bernyanyi dengan lantang mebawakan mega-hit Sweet Child O'Mine. Sangat emosional!

Euforia Sweet Child O'Mine diredam dengan tembang klasik tembang menenangkan  berjudul Wichita Lineman, yang ditulis oleh Jimmy Webb pada 1968.

Wichita Lineman masuk dalam jajaran daftar bergengsi "500 Greatest Songs of All Time" yang dirilis majalah Rolling Stone pada 2010. Pada tahun 2000, singel ini dianugerahi Grammy Hall of Fame. Sayang, ketika GNR membawakan lagu ini secara akustik di Jakarta, para penonton tampak kurang familiar.

Lagu cover paling familiar bagi penonton di Gelora Bung Karno tentu saja Knocking On Heaven's Door (lagu dari Bob Dylan) yang memang masuk dalam album GNR di tahun 1991 (Use You Illusion II). Selain itu, cover lagu Pink Floyd, Wish You Were Here juga familiar bagi penonton GNR di sini dan turut mengundang paduan suara masal.

Knocking On Heaven's Door dibawakan dengan manis, Slash membuka lagu itu dengan petikan gitar double-neck 18 senar. 

Jelang akhir konser, GNR sempat membawakan dua lagu cover lain, yaitu Black Hole Sun dari Soundgarden dan The Seeker dari The Who yang dibawakan pada sesi encore.

GNR membawakan Black Hole Sun lebih terdengar sebagai wujud penghormatan mereka pada mendiang Chris Cornell. Pada awal 1990-an, Soundgarden dan Guns N' Roses pernah melakukan tur bersama. Hubungan Chris dengan Slash dan Duff sangat baik. Chris Cornell meninggal  gantung diri pada 2017.

Black Hole Sun ditempatkan setelah November Rain. Lagu dari album Use Your Illusion I (1991) jadi salah satu lagu paling dinanti penonton. Axl memainkan intro lagu dengan piano di lidah panggung. Mengenakan jaket tebal - seolah menjaga tubuh dari dingin bulan November - Axl dengan tenang memainkan tuts grand piano Baldwin. Tak butuh waktu lama bagi para penonton untuk segera larut dan bernyanyi bersama. Syahdu. Sebuah pengalaman tak terlupakan menyanyikan November Rain di bulan November bersama sang empunya lagu.

Baca juga: November Rain, Hujan Air Mata dari GNR

Tanpa terasa tiga jam hampir berlalu. Seperti yang terjadi di negara-negara lain, GNR menempatkan hit Patience, Don't Cry dan Paradise Citypada sesi encore. Di Jakarta, mereka sempat membawakan cover The Seeker dari The Who sebelum benar-benar menutup dengan Paradise City.

Siulan pembuka Axl pada lagu Patience, reff Don't Cry yang anthemic hingga beat menggugah semangat Paradise City jadi penutup yang tak mungkin dilupakan puluhan ribu manusia yang hadir malam itu. 

Dari obrolan penonton yang saya dengar, banyak yang kecewa dengan performa suara Axl. Memang suara Axl tak seperti 20 atau 30 tahun lalu, dia tampak kepayahan menjangkau nada-nada tinggi. Tapi, konser ini bukan soal itu. Reuni antara Axl dan Slash lebih dari sekedar soal performa suara. Ini adalah sejarah baru musik rock dunia. Jika banyak yang menganggap rock & roll telah mati, melihat puluhan ribu manusia pada konser ini seperti menyadarkan bahwa sesungguhnya denyut musik rock abadi.

Melihat bagaimana "dynamic-duo" yang pernah menyusun sebuah hasrat untuk menghancurkan - kemudian terpisahselama lebih dari dua dekade dan akhirnya kembali bersama-sama lagi - adalah kesempatan tak ternilai. Konser reuni GNR adalah perayaan kemenangan musik rock yang sebenarnya.

Lagipula, Axl tak muda lagi. Dia berusia 56 tahun saat ini. Mencela kualitas vokalnya yang turun akibat realita natural manusia yang pasti tua dan kian lemah sangat tidak bijak. Lebih-lebih, Axl sudah melakukan bagiannya dengan sangat sempurna. Menjawab doa dan harapan jutaan penggemar GNR di seluruh dunia, untuk setidaknya melihat Axl-Slash berada di satu panggung.

Baca juga: Guns N' Roses, Legenda Rock and Roll dari Hollywood

Catatan: Kredit seluruh foto dalam artikel ini oleh Foto Konser, terkecuali foto Tank pada layar videotron oleh Shindu Alpito.
 

(ASA)